Wednesday, 14 May 2014

Tidak Berkata "Tidak"!

Mungkin anda pernah menonton salah satu film yang dibintangi oleh Jim Carey, Judulnya “Yes Men”. Sekilas film ini biasa-biasa saja, tapi menurut saya banyak makna yang terkandung dalam film ini.

Coba anda lihat adegan demi adegan. Walaupun tak sama persis tapi sekilas film ini menunjukan keseharian kita. Dimana kehidupan yang kita miliki membosankan dan begitu-begitu saja. Penyebabnya karena kita sering sekali berkata “Tidak”

Makna "Tidak" disini bukan hanya sekedar kata "Tidak", Tapi semua hal yang berujung pada ketidakmauan. Contohnya jika saat anda diajak makan bersama teman, anda menggelengkan kepala. Maka itu juga termasuk kata "Tidak". So, sebelum melangkah lebih jauh, saya hanya ingin memaparkan bahwa representasi dari kata tidak itu sangat banyak, bisa berbentuk kata-kata misalnya (ah, gak mau, capek, kok aku-aku aja. dll) dan berupa isyarat seperti contoh diatas yakni menggeleng-gelengkan kepala atau sejenisnya.

Oke, sebenarnya ada apa dengan kata "Tidak"? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata "Tidak" didefinisikan sebagai  partikel untuk menyatakan pengingkaran, penolakan, penyangkalan, dsb. Sedangkan "Tidak" menurut saya adalah kata yang mengandung unsur pembunuhan karakter. Tapi teori ini berlaku untuk mereka yang terlalu sering berkata tidak.

Disisi lain, jika kita merujuk pada potensi seseorang. Maka kita akan melihat, berkembang atau tidaknya potensi itu tergantung pada recitation atau pengulangan. Saat potensi bertemu dengan pengulangan dalam latihan maka akan membentuk skill atau keahlian. Hal ini berlaku sebaliknya, jika potensi bertemu dengan pengulangan terhadap kata "tidak". Maka akan membunuh potensi itu. Dengan kata lain, seseorang yang dilahirkan dengan potensi menulis, namun dia tidak terus mengasah dan melatih potensi itu. Maka potensi itu tidak akan pernah berkembang.

Ini juga berlaku untuk alam bawah sadar. Sebenarnya kata "Tidak" sangat sensitif untuk alam bawah sadar. Pasalnya, saat sekali saja anda mengatakan "Tidak", maka alam bawah sadar akan berkoordinasi dengan alam sadar dan diteruskan kepada otak. Dan otak akan mengatur tubuh untuk merespon apa yang telah diperintahkan. Bayangkan jika ini terjadi terus menerus. Maka akan membentuk sebuah kebiasaan yang tidak baik.

Jika sudah mengidap penyakit ini. Kehidupan anda terasa datar dan hitam putih. Tidak memiliki warna. Anda akan terbiasa menolak amanah yang sebenarnya berpotensi membangun bakat anda. Dan lagi, sebenarnya saat anda terbiasa berkata "Tidak" maka secara otomatis peluang dan kesempatan anda untuk berkembang akan tertutup.

Langkah untuk menghindarinya, tidak lain anda harus membiasakan berkata "Ya". Mencoba menerima kesempatan yang datang. Memang terkadang banyak hal yang tidak kita suka malah mengampiri. Toh, tidak ada salahnya kita untuk menerimanya dengan lapang dada.

Kembali ke film “Yes Men”, lihatlah awalnya Jim Carey berkata “Ya” pada seorang pengemis yang memintanya untuk diantarkan pulang, walaupun dengan paksaan, Namun ia tetap membawanya juga. Tapi hal ini tak lantas memberinya kebahagiaan. Ingat, ternyata si pengemis malah meminjam uang dan ponselnya, saat ia pulang bensin mobilnya pun habis, dan mengharuskan ia untuk untuk berjalan kaki membeli bahan bakar. Nah, setelah kesusahan-kesusahan itu akhirnya ia banyak menemukan kejutan-kejutan menarik yang tidak pernah ia duga. Tentunya dengan sebuah kata ajaib , “Ya”.

Sedikit banyaknya saya merasakan hal yang sama. Banyak hal yang saya coba untuk tidak melewatkannya. Bahkan dulu saya tak pernah berfikir untuk menjadi seorang desainer grafis. Namun saat salah satu organisasi kampus mengamanahkan saya untuk membuat desain brosur dan spanduk, saya tidak menolak dan berusaha untuk menyanggupinya, walaupun diawal saya harus banyak menerima kritikan karena hasil yang masih sangat jelek. Setelah itu datang kesempatan kedua, dengan tugas yang sama. Dan dengan jawaban yang sama pula saya kembali berkreasi hingga akhirnya saya mantap membawa gelar desainer grafis.

Dalam banyak catatan saya, Kata yang jarang sekali saya tulis adalah kata “Tidak (Jangan)”. Misalnya, “ Ada pepatah yang mengatakan jika tidur setelah subuh, maka rezeki akan dipatok ayam. Oleh karena itu jangan tidur setelah subuh”. Didalam buku catatan dan daftar agenda, saya tak pernah menulis memo yang bertuliskan “Jangan tidur setelah subuh!”, tapi saya menulisnya dengan kalimat “ Saya akan baca Al-Qur’an, baca buku, dan menggosok baju setelah shubuh”. Kalimat pertama seolah memfokuskan kita pada aturan bahwa kita tidak boleh tidur setelah subuh. Dan karena benar-benar fokus pada kalimat itu, yang kita lakukan malah melanggarnya dan tidak memikirkan aktifitas lain. Tapi dikalimat kedua, Kita fokus pada banyak hal, bisa membaca, mencuci, atau menyetrika sehingga dengan hal-hal tersebut membuat kita lupa untuk tidur kembali setelah shubuh. Dua kalimat dengan maksud yang sama, tapi dengan penerapan yang berbeda. So, usahakan dalam catatan ataupun daftar agendamu, jangan dimulai dengan kata negatif , Seperti kata “Tidak (Jangan)”.

Jangan biarkan kesempatan anda lewat begitu saja, hanya karena anda berkata “Tidak”. Tapi nikmati dia dan terima apa adanya, “Ya”. Akan banyak kejutan yang anda rasakan.

Sebelum saya menutup artikel ini, Ada cerita menarik dari salah satu teman facebook saya. Ini kisah nyata berdasarkan pengalamannya sendiri. Sekarang dia adalah seorang desainer grafis yang juga memiliki percetakan. Namun anda akan terkejut, ternyata dulunya dia juga tidak pernah bercita-cita menjadi desainer grafis dan punya percetakan.

“ Awalnya saya hanya melamar kerja disebuah rental komputer. Saya diterima dan ditugaskan untuk mengetik beberapa makalah.

Suatu hari, ada seorang pelanggan datang dan meminta saya untuk mengetikkan tugasnya. Ia terheran-heran melihat saya mengetik dengan begitu lancar, padahal waktu itu saya hanya sekedar bisa ngetik, yang lainnya saya tidak tahu. Kemampuan mengetik sayapun didapat dari kebiasaan saya mengetik dimesin tik. Melihat keyboardnya sama, saya jadi terbiasa.

Ternyata si pelanggan ini adalah pemilik salah satu kursus komputer. Melihat saya begitu lancar dalam mengetik, ia berfikir saya sudah jago dalam dunia komputer. Kemudian ia bertanya “ Mas, mau jadi pengajar di kursus komputer saya gak?”. “Ya, oke” saya jawab. Padahal waktu itu saya cuma bisa ngetik doang.

Tidak punya pengalaman mengajar sama sekali, dan cuma bisa ngetik membuat saya banting stir. Di hari pertama saya benar-benar gugup dan berulang kali permisi keluar, diluar saya terus saja membuka buku mengulang bahan yang diajarkan. Hingga akhirnya saya mulai terbiasa, karena waktu itu bahannya terus saja diulang, jadi sudah diluar kepala.

Dilain kesempatan, melihat kinerja saya yang baik, seorang pengusaha percetakan menemui saya, kontan saja dia mengatakan “ Mas, bisa desain grafis?”, lagi lagi saya jawab “ Ya, bisa”, padahal kata desain grafis saja baru saya dengar saat itu dan sama sekali tidak tahu seperti apa bentuk desain grafis itu . Dan bapak itu langsung merekrut saya menjadi salah satu pekerjanya.

Diawal saya cukup ketar-ketir, Program desain grafis untuk pertama kalinya saya buka. Benar-benar membuat kepala saya pusing. Tapi hari demi hari, karena tuntutan pekerjaan, saya akhirnya semakin ahli. Tak lama bekerja disana, saya memutuskan untuk membuat percetakan sendiri. Dan jadilah saya seperti sekarang.”

Jika ada kesempatan, maka jangan sia-siakan. Menerima kesempatan pertama akan memicu keluarnya kesempatan kedua dst. Tapi satu hal, tolong jangan tanya saya, kenapa saya memberi judul ini dimulai dengan kata "Tidak"?. Semoga bermanfaat! hehe.

6 komentar: